PelayananBerita

Sosialisasi Standarisasi Standar Pelayanan di Bangunjiwo Dorong Pelayanan Lebih Sigap dan Transparan

Sosialisasi standarisasi standar pelayanan di Gedung Sastro Soekarno Kalurahan Bangunjiwo menekankan pelayanan yang transparan, akuntabel, sigap, dan berorientasi pada masyarakat.

Kak Maruf6 menit baca
Ma'ruf Cahyadi Dukuh V Salakan berbicara dalam sosialisasi standarisasi standar pelayanan di Kalurahan Bangunjiwo.

Sosialisasi Standarisasi Standar Pelayanan di Bangunjiwo Dorong Pelayanan Lebih Sigap dan Transparan

Bangunjiwo – Pelayanan publik yang baik tidak hanya dinilai dari lengkapnya aturan atau tersedianya aplikasi. Bagi warga, pelayanan terasa baik ketika petugas mudah ditemui, prosedur jelas, sikapnya ramah, dan persoalan yang dibawa warga mendapatkan arahan penyelesaian. Pesan inilah yang mengemuka dalam Sosialisasi Standarisasi Standar Pelayanan di Kalurahan Bangunjiwo.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Sastro Soekarno, Kalurahan Bangunjiwo, pada Rabu, 29 Juli 2026, pukul 20.00 sampai 22.00 WIB. Ma'ruf Cahyadi, Dukuh V Salakan, turut hadir dalam kegiatan yang membahas penguatan pelayanan kepada masyarakat tersebut.

Ma'ruf Cahyadi Dukuh V Salakan berbicara dalam sosialisasi standarisasi standar pelayanan di Kalurahan Bangunjiwo

Kegiatan ini disampaikan sebagai bagian dari penguatan pelayanan dengan dukungan Dana Keistimewaan. Materi dan arahan menekankan bahwa standar pelayanan tidak boleh berhenti sebagai dokumen, tetapi perlu hadir dalam kebiasaan kerja sehari-hari pamong dan unsur pelayanan di tingkat kalurahan maupun wilayah.

Harapan Lurah: Standar Pelayanan Menjadi Tindakan Nyata

Dalam sambutannya, Lurah Bangunjiwo Parja, S.T., M.Si. menyampaikan harapan agar peserta tidak sekadar mengetahui aturan. Standar pelayanan perlu dipahami sebagai pedoman untuk menangani kebutuhan masyarakat dan memberikan pelayanan terbaik sesuai ketentuan.

Pelayanan yang baik membutuhkan kebiasaan. Artinya, budaya pelayanan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Warga yang datang membawa urusan administrasi, pertanyaan, atau persoalan tertentu perlu diterima dengan baik, diarahkan dengan jelas, dan dibantu sesuai kewenangan pelayanan.

Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan warga di tingkat padukuhan. Banyak urusan masyarakat dimulai dari informasi sederhana: syarat dokumen, alur pelayanan, apakah cukup di tingkat dukuh, harus ke kalurahan, kapanewon, atau instansi lain. Ketika standar pelayanan dijalankan secara konsisten, warga lebih mudah memahami langkah yang perlu ditempuh.

Pelayanan adalah Wajah Kalurahan

Dari Kapanewon, hadir Ibu Isti Wardayati, S.E., M.M. dari Jawatan Pelayanan Umum. Dalam penyampaiannya, pelayanan ditegaskan sebagai wajah kalurahan. Warga yang datang ke kantor kalurahan perlu mendapatkan pelayanan yang baik, jelas, dan menenangkan.

Beberapa prinsip yang ditekankan antara lain ketepatan, transparansi, dan akuntabilitas. Transparansi prosedur berarti alur pelayanan harus jelas. Warga perlu mengetahui apa yang harus dibawa, ke mana harus mengurus, dan bagian mana yang menjadi kewenangan kalurahan atau instansi lain.

Dalam konteks biaya, umumnya layanan bersifat gratis. Namun, ada beberapa kebutuhan pendukung yang mungkin memerlukan biaya dari warga, seperti materai atau kebutuhan dokumen tertentu. Karena itu, informasi perlu disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah paham.

Selain transparansi, konsistensi pelayanan juga menjadi perhatian. Pelayanan tidak hanya berhenti pada pengesahan dokumen, tetapi juga pada cara memberi penjelasan dan memastikan warga memahami prosesnya. Evaluasi yang berkelanjutan diperlukan agar pelayanan terus membaik dari waktu ke waktu.

Suasana narasumber dalam sosialisasi standarisasi standar pelayanan di Kalurahan Bangunjiwo

Melayani dengan Hati dan Sikap Positif

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Irsasri, M.Pd. dari APMD dalam konteks pengabdian masyarakat. Salah satu penekanan pentingnya adalah bahwa pelayanan seharusnya membahagiakan dan menenangkan. Petugas pelayanan perlu memastikan kondisi hati dan perasaan batin tetap baik, segar, dan positif saat melayani warga.

SOP tetap penting, tetapi SOP perlu dijalankan dengan hati. Pelayanan yang baik tidak hanya mengikuti daftar prosedur, melainkan juga menunjukkan kesediaan membantu. Sikap ringan tangan, mau mencarikan bantuan, dan tidak membiarkan warga kebingungan menjadi bagian dari kualitas pelayanan.

Dalam penyampaian tersebut, peserta juga diingatkan untuk mencintai pekerjaan pelayanan. Ketika pamong atau petugas mencintai pekerjaannya, pelayanan akan terasa lebih hidup. Warga yang datang tidak sekadar dilihat sebagai pemohon layanan, tetapi sebagai masyarakat yang membutuhkan solusi.

Sigap, Solutif, dan Tidak Menunggu

Pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan yang sigap. Dalam forum, semangat pelayanan digambarkan dengan ungkapan praktis: sigap, sat set, tas tes, das des. Artinya, petugas tidak menunggu warga kebingungan terlalu lama. Warga perlu disambut, disapa, dan diarahkan.

Pelayanan juga tidak cukup berada pada standar minimal. Harapannya, pelayanan dapat bergerak menuju standar maksimal atau excellent. Jika warga datang membawa masalah, dukuh, pamong, atau unsur pelayanan perlu membantu mencari penyelesaian sesuai kewenangan dan jalur yang tersedia.

Kabar yang diberikan kepada warga juga sebaiknya menenangkan hati. Jika urusan belum bisa selesai saat itu juga, warga tetap perlu mendapat penjelasan yang jelas: apa yang kurang, harus ke mana, dan kapan perlu kembali. Dengan demikian, warga tidak pulang dengan kebingungan.

Kenyamanan infrastruktur turut disebut sebagai bagian dari pengalaman pelayanan. Kursi yang nyaman, kipas angin, ruang tunggu yang layak, dan suasana yang tertib dapat membantu warga merasa lebih dihargai.

Peserta mengikuti sosialisasi standarisasi standar pelayanan di Gedung Sastro Soekarno Bangunjiwo

3A: Attitude, Attention, dan Action

Dalam pelayanan, masyarakat menjadi subjek utama. Pamong bukan sekadar officer atau pekerja administrasi. Pamong memiliki peran sosial yang dekat dengan warga, sehingga sikap pelayanan perlu dijaga sejak warga datang hingga urusan selesai atau mendapat arahan lanjutan.

Salah satu rumusan yang ditekankan adalah 3A, yaitu Attitude, Attention, dan Action. Attitude berarti sopan santun. Attention berarti memberi perhatian kepada warga yang sedang dilayani. Action berarti segera mengurus atau menindaklanjuti sesuai kemampuan dan kewenangan.

Dalam praktik sederhana, ketika sedang melayani warga, petugas perlu fokus kepada orang yang dilayani. Hindari merokok, bermain HP, atau bersikap tidak memperhatikan. Melihat ke arah warga, mendengarkan, dan menjawab dengan tenang merupakan hal kecil yang sangat terasa bagi masyarakat.

Sikap menjaga emosi juga penting. Warga datang dengan berbagai latar masalah. Ada yang bingung, terburu-buru, atau belum memahami prosedur. Petugas perlu menyambut dengan baik dan menanggapi tanpa emosional.

Peran Dukuh Tetap Utama

Dalam forum tersebut juga ditekankan bahwa aplikasi dapat mendukung pelayanan, tetapi inti pelayanan tetap berada pada manusia. Teknologi membantu pencatatan dan alur informasi, namun pelayanan tetap membutuhkan pamong yang hadir, memahami wilayah, dan mau turun membantu masyarakat.

Keberadaan dukuh disebut sebagai bagian penting dalam pelayanan. Jika memungkinkan, urusan masyarakat dapat diselesaikan di tingkat terbawah, misalnya cukup dengan dukuh. Setelah itu, proses dapat dibantu atau diarahkan ke tingkat berikutnya bila memang diperlukan. Teknologi hadir sebagai pendukung, bukan pengganti kedekatan pamong dengan warga.

Bagi Padukuhan Salakan, pesan ini relevan dengan pelayanan sehari-hari. Warga sering membutuhkan arahan awal sebelum mengurus administrasi. Dengan standar pelayanan yang jelas dan sikap melayani yang baik, dukuh dan unsur wilayah dapat membantu warga bergerak lebih cepat, lebih tenang, dan lebih tepat.

Sosialisasi standarisasi standar pelayanan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan publik yang baik dibangun dari aturan, sikap, kebiasaan, dan kepedulian. Ketika semuanya berjalan bersama, warga akan merasakan pelayanan yang lebih transparan, akuntabel, sigap, dan manusiawi.

Informasi terkait

Bagikan artikel ini